Friday, September 30, 2016



INTERNALISASI PENDIDIKAN NILAI-NILAI RELIGIUS
PADA ANAK

Adi Saputra

Abstract: Because education in human life can not be separated, then the
man should be able malihat identity through dynamic education.
Education includes all efforts and actions of the older generation to
transfer the experience, knowledge, competence and skills to young
people enabling them to perform life functions in association with the
best. Thus, the study will form an integral human personality especially in
planting and ahklak faith in everyday life.
Kata Kunci: Internalisasi, nilai, pendidikan anak


A. Pendahuluan
Pemahaman tentang manusia merupakan bagian dari kajian filsafat.
Tak mengherankan jika banyak sekali kajian atau pemikiran yang telah
dicurahkan untuk membahas tentang manusia. Dalam pandangan Islam,
manusia adalah mahluk ciptaan Allah, bukan tercipta atau ada dengan
sendirinya. Inilah hakikat pertama tentang manusia. Ini masalah keyakinan,
dan Al-Qur’an secara berulang-ulang meyakinkannya kepada manusia sampai
kepada tingkat menantangnya agar mencari bukti baik pada alam raya maupun
pada diri sendiri (Hery, 1999: 58). Salah satu ayat yang menyatakan tentang
ini adalah sebagai berikut:
Artinya: Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki,
kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali).
Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang
dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha sucilah Dia
dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.(Q.s al-
Rum/30:40)
Hakikat manusia yang demikian diyakini oleh kebanyakan manusia
bahkan, kaum musyrikin sekalipun. Diantara manusia ada yang tidak
meyakininya. Namun, mereka adalah kaum minoritas, yaitu kaum ateis.
Pandangan mereka digambarkan di dalam al-Qur’an pada ayat dibawah ini:
338
Adi Saputra, Internalisasi Pendidikan Nilai-Nilai Religius 339
Artinya: Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan
di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan
membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak
mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah
menduga-duga saja.(Q.s. al-jaatsiyah/ 45:24)
Kedudukan manusia dalam Islam dan lebih-lebih dalam kajian
spiritual Islam, merupakan pencerminan dan kekuasan Allah SWT Menurut
(Solihin dan Anwar, 2005: 14). Menurut Al-Qur’an (Q.S. Shad, 38: 75),
manusia diciptakan “dengan kedua tangan-Ku” dan diterangkan lebih lanjut
bahwa Allah SWT. Menciptakan Adam selama empat puluh hari dan Dia
memberikan kepada Adam kehidupan dan jiwa degan meniupkan nafs-Nya
sendiri kedalam tubuh Adam.
Manusia mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, bukan saja
karena ia dimuliakan Tuhan, tetapi lebih dari itu, yaitu karena ia diutus oleh
Tuhan sebagai “khalifah di bumi ini”, dan tidak diberikan sekalipun kepada
malaikat. Untuk itulah, manusia diberikan oleh Tuhan berbagai kelengkapan.
Diajarkan-Nya kepada manusia semua nama, dan ditanamkannya kedalam diri
manusia sifat-sifat Tuhan (Solihin dan Anwar, 2005: 15).
Khalifah berarti pengganti, penguasa, pengelolah atau pemakmur.
Sebelum manusia diciptakan, Allah telah mengemukakan rencana penciptaan
tersebut kepada para malaikat (Alim, 2006: 77). Pernyataan Allah ini
terangkum dalam ayat 30 surat al-Baqarah berikut:

Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:
"Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
340 Al-Ta’lim, Vol. 11, No. 2, Juli 2012
bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"
Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui." (Q.s. al-Baqarah/2:30)

Selengkapnya dapat dilihat di KLIK DISINI



INTERNALISASI PENDIDIKAN NILAI-NILAI RELIGIUS
PADA ANAK

Adi Saputra

Abstract: Because education in human life can not be separated, then the
man should be able malihat identity through dynamic education.
Education includes all efforts and actions of the older generation to
transfer the experience, knowledge, competence and skills to young
people enabling them to perform life functions in association with the
best. Thus, the study will form an integral human personality especially in
planting and ahklak faith in everyday life.
Kata Kunci: Internalisasi, nilai, pendidikan anak


A. Pendahuluan
Pemahaman tentang manusia merupakan bagian dari kajian filsafat.
Tak mengherankan jika banyak sekali kajian atau pemikiran yang telah
dicurahkan untuk membahas tentang manusia. Dalam pandangan Islam,
manusia adalah mahluk ciptaan Allah, bukan tercipta atau ada dengan
sendirinya. Inilah hakikat pertama tentang manusia. Ini masalah keyakinan,
dan Al-Qur’an secara berulang-ulang meyakinkannya kepada manusia sampai
kepada tingkat menantangnya agar mencari bukti baik pada alam raya maupun
pada diri sendiri (Hery, 1999: 58). Salah satu ayat yang menyatakan tentang
ini adalah sebagai berikut:
Artinya: Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki,
kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali).
Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang
dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha sucilah Dia
dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.(Q.s al-
Rum/30:40)
Hakikat manusia yang demikian diyakini oleh kebanyakan manusia
bahkan, kaum musyrikin sekalipun. Diantara manusia ada yang tidak
meyakininya. Namun, mereka adalah kaum minoritas, yaitu kaum ateis.
Pandangan mereka digambarkan di dalam al-Qur’an pada ayat dibawah ini:
338
Adi Saputra, Internalisasi Pendidikan Nilai-Nilai Religius 339
Artinya: Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan
di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan
membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak
mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah
menduga-duga saja.(Q.s. al-jaatsiyah/ 45:24)
Kedudukan manusia dalam Islam dan lebih-lebih dalam kajian
spiritual Islam, merupakan pencerminan dan kekuasan Allah SWT Menurut
(Solihin dan Anwar, 2005: 14). Menurut Al-Qur’an (Q.S. Shad, 38: 75),
manusia diciptakan “dengan kedua tangan-Ku” dan diterangkan lebih lanjut
bahwa Allah SWT. Menciptakan Adam selama empat puluh hari dan Dia
memberikan kepada Adam kehidupan dan jiwa degan meniupkan nafs-Nya
sendiri kedalam tubuh Adam.
Manusia mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, bukan saja
karena ia dimuliakan Tuhan, tetapi lebih dari itu, yaitu karena ia diutus oleh
Tuhan sebagai “khalifah di bumi ini”, dan tidak diberikan sekalipun kepada
malaikat. Untuk itulah, manusia diberikan oleh Tuhan berbagai kelengkapan.
Diajarkan-Nya kepada manusia semua nama, dan ditanamkannya kedalam diri
manusia sifat-sifat Tuhan (Solihin dan Anwar, 2005: 15).
Khalifah berarti pengganti, penguasa, pengelolah atau pemakmur.
Sebelum manusia diciptakan, Allah telah mengemukakan rencana penciptaan
tersebut kepada para malaikat (Alim, 2006: 77). Pernyataan Allah ini
terangkum dalam ayat 30 surat al-Baqarah berikut:

Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:
"Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
340 Al-Ta’lim, Vol. 11, No. 2, Juli 2012
bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"
Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui." (Q.s. al-Baqarah/2:30)

Selengkapnya dapat dilihat di KLIK DISINI


0 komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar yang santun

Comments

Popular Posts

Powered by Blogger.